Selasa, Juni 04, 2013

SMK PRIMANEGARA 2013

Yang tidak mengulang dari SMK Primanegara Kelas XI
Kelas XI.1

  1. A. Nur Setyawati Dwi Suhardini
  2. Sri Eka Wardani
  3. Riswan
  4. Fitriani Syam
Kelas XI. 2
  1. Riska Amelia Putri
  2. Aldi Ramadhan
  3. Nurlenni
  4. Rahmia
  5. Hastuti
  6. Dwi Lestari M
  7. Indra Nur
  8. Deswita Susanto
  9. Risma Dewi
  10. Muh. Nurhidayat
  11. Risma Wati
  12. Nining Ikhlasita
  13. Winda Asrianti
  14. Muh. Alfian Ramadhan
  15. Jesi Ismawati
  16. Hasmawati
  17. Asrianti
  18. Reski Amelia
  19. Nurmi
  20. Deni Wahyuni
  21. Fitriani J
  22. Irawati
  23. Moh. Sabar M
  24. Riskawati
  25. Sri Mulya Ningsih
  26. Sri Wulandari
  27. Nur Hakiki
  28. Fitriani




Kelas XI.3
  1. Susanti
  2. A. Dicky Andrian M
  3. Ririn Wiranti
  4. Sinar Kartini
  5. Anita. S
  6. Asrini Ahmad
  7. Suci Hardianti Suharto Putri
  8. Yayu Angraini N
  9. Syahrul Gunawan
  10. Nurfadirah
  11. Restu
  12. Arifin
  13. Hasniyarti
  14. Rika Pratiwi
  15. Dwi Andika Andriani
  16. Sri Yuningsih
  17. Hasrawati
  18. Asrriani
  19. Sri Ayu Astuti
  20. Nengsih
  21. Sri Kanti
Kelas XI.4
  1. Wahyu Ismail
  2. Hasnita
  3. Khusnul Khatimah
  4. Wawan Kurniawan
  5. Siti Marwah Indah
  6. Anita Desi Wahyuni
  7. Andriani Nur Septi
  8. Ulfahmi Azmawi Z
  9. Nurwahyuni
  10. Ririn Puspita Sari

Minggu, Maret 11, 2012

40 Tokoh yang Mewarnai Kampus Merah (PART I : Mahasiswa)


3.    Relegius
Kampus sebagai tatanan masyarakat yang lebih kecil merupakan sebuah refleksi dari masyarakat luar kampus yang lebih besar. Terdapat perbedaan-perbedaan yang kemudian disatukan dalam sebuah lingkungan yang harmonis, salah satu perbedaan tersebut adalah agama dan Islam adalah agama mayoritas di Indonesia dan juga di kampus Unhas.
Sebagai seorang mahasiswa yang sifatnya religius, selain tugas pokok sebagai seorang mahasiswa mereka juga merasa wajib untuk mengajak mahasiswa lainnya untuk selalu berbuat baik (dakwah). Hal yang menarik untuk diperhatikan adalah adanya anggapan atau persepsi bahwa mahasiswa yang berada dalam ketegori religius ini terkesan tertutup. Mahasiswa dengan ketegori ini akan sangat mudah kita temukan disetiap fakultas yang ada di Unhas, sepertinya mereka memiliki ciri-ciri khusus yang menyebabkannya sangat mudah diidentifikasi.
Ciri-ciri      : Co__ menggunakan peci, kemeja kotak-kotak, celana berbahan kain polos dengan ujung kaki sebatas tumit.
                    Ce__ meula-mula menggunakan jilbab kecil kemudian semakin besar dan akhirnya menggunakan cadar, pola pergaulan yang mereka batasi hanya dengan mereka yang bercadar saja, kalaupun ada tidak seakrab biasanya.

Sabtu, Maret 10, 2012

40 Tokoh yang mewarnai Kampus Merah (masih PART 1: Mahasiswa)


 2. Aktivis
Dunia kemahasiswaan tak pernah lepas dari aktivitas kelembagaan mahasiswa. Sebagai lembaga internal baik itu tingkat fakultas maupun tingkat jurusan, hadir untuk mengikat semua pernedaan. Sebagai salah satu wadah untuk menyatukan mahasiswa sebagai “agent of change”. Sehingga mahasiswa yang kegiatan kesehariannya berporos pada lembaga kemahasiswaan ini biasa disebut sebagai seorang “aktivis” kampus.
Sebagai seorang “aktivis” kampus, tugas tersebut tidak hanya menyoroti permasalahan yang terjadi dalam kampus saja. Lebih dari itu aktivis diharapkan mampu memberikan perubahan dalam masyarakat, memberikan  kritikan terhadap program pemerintah yang diaggap menyengsarakan rakyat, serta memberikan pendidikan politik yyang sehat kepada masyarakat sekitar.
Ciri-ciri  :   Rambut tidak terurus, pakaian lusuh, jeans loreng karena banyyak tambalan, kekelas biasanya mengguanakan sandal jepit (sandal gunung), suka diskusi mengenai topik hangat meskipun itu demi rokok dan kopi, suka berdemo demi kebaikan masyarakat.

40 Tokoh yang mewarnai Kampus Merah (Part I: Mahasiswa)


1.   Mahasiswa biasa-biasa saja
Tiap tahun kampus unhas dipenuhi dengan ribuan wajah-wajah polos yang baru saja menyelesaikan masa SMA-nya. Mereka kemudian memenuhi sejumlah jurusan yang tersebar, mempelajari apa yang mereka geluti hingga bertahun-tahun lamanya.
Tentu perlu persyaratan keahlian bagi tiap-tiap jurusan yang mereka geluti. Syarat yang seharusnya mereka capai sebelum dilepas kedunia nyata seperti soft skill organisasi, keahlian akademik serta indeks nilai kumulatif. Soft skill organisasi didapatkan melalui serangkaian pengkaderan yang dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan jurusan masing-masing, dengan memberikan semacam pembekalan baik secara teori maupun dengan praktiknya dalam kegiatan kemahasiswaan. Kemampuan akademik merupakan hal utama yang tentunya ingin dicapai oleh setiap mahasiswa karena untuk itulah mahasiswa belajar. Selanjutnya tentang IPK. Setiap lulusan sebuah perguruan tinggi baik negeri maupun swasta akan dinilai berdasarkan Indeks Prestasi Kumulatif yang dicapainya sewaktu kuliah. Sehingga, terdapat pola pikir dalam dunia kerja bahwa jika seseorang memiliki IPK yang tinggi maka dia termasuk orang yang pintar, begitupun sebaliknya.
Kriteria diatas mungkin saja akan berbeda bagi tiap-tiap orang. Namun perbedaan tersebut palinng tidak mencakup 2 dari 3 kriteria diatas. Namun bila halnya seorang lulusan perguruan tinggi negeri/swasta lulus tanpa mengantongi 2 dari 3 kriteria tersebut maka pastikanlah bahwa dia hanyalah  mahasiswa biasa-biasa saja, mahasiswa yang “nobody”.
Ciri-ciri :    Malas ikut pengumpulan sewaktu jadi mahasiswa baru, kurang bergaul dengan pengurus himpunan, tugas-tugas boleh nyontek, kekampus ngojek, skripsi pake joki, senyum lebar tanpa dosa.

FENOMENA BAHASA

Fenomena bahasa merupakan fenomena yang menarik untuk kita kaji lebih mendalam. Hal  ini terutama hubungannya dengan bahasa sebagai tindak tutur dalam komunikasi di masyarakat. Secara etimologis, bahasa adalah penggunaan yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks membentuk kalimat yang memiliki arti. Sedangkan secara harfiah, bahasa adalah suatu lambang bunyi yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi satu sama lain.
Bahasa sendiri tak akan berhenti pada suatu titik tertentu saja. Melainkan akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karenanya, sering muncul istilah bahwa, suatu bahasa pada saatnya akan dianggap usang pada masa yang akan datang. Apa sebenarnya yang menjadi pembeda bahasa, khususnya bahasa tutur pada masa-masa sebelumnya dengan masa sekarang? Aspek-aspek apa saja yang menjadi pembedanya? Marilah kita mengupasnya satu persatu.
Bukanlah rahasia lagi kalau bahasa itu akan terus berkembang sesuai perkembangan zaman. Sehingga bukanlah hal sepele kalau dikatakan bahwa, jika engkau hendak menaklukkan sebuah negeri, maka kuasailah bahasanya terlebih dahulu. Kita harus sadari bahwa, generasi yang sekarang beda dengan generasi pendahulu, dan tentunya generasi yang akan datang akan berbeda dengan generasi yang sekarang. Bukan hanya dari segi umur, kemampuan teknologi, sains, tetapi juga dalam aspek bahasa dan cara bertutur kata.
Saya tertarik dengan pembagian generasi yang dilakukan di Barat sana. Mereka membagi generasi menjadi generasi Baby Boomers, generasi X, generasi Y, dan generasi Z. Dalam beberapa referensi generasi ini diklasifikasikan berdasar tahun kelahiran. misalnya Pre Baby Boom (lahir pada 1945 dan sebelumnya), TheBaby Boom (lahir antara 1946 – 1964), The Baby Bust (lahir antara 1965 – 1976) – Generasi X, – Generasi Y (lahir antara 1977 – 1997), – Generasi Z/GenerationNet (lahir antara 1998 hingga kini).
Nah, konteks ke-Indonesian mengharuskan saya untuk berpikir dalam kerangka Indonesia juga. Dalam kerangka Indonesia, maka saya membaginya dalam tiga generasi saja, yaitu berdasarkan perkembangan teknologi yang sudah ada. Maka dari itu saya akan fokus ke generasi Y, yaitu generasi sekarang (menurut konteks indonesia, kita ketinggalan 10-15 tahun teknologi).
Fenomena berbahasa tutur untuk generasi saat ini jika kita perhatikan maka akan menemukan ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Lebih terbuka dalam berkomunikasi
2.      Dalam berkomunikasi labih nyaman menggunakan teknologi (HP)
3.      Berani mengungkapkan hal-hal yang dalam masyarakat ditabukan.
Garis besarnya, anak-anak pada generasi saat ini sangat flexible dalam berkomunikasi. Hal ini bisa kita lihat dari penggunaan bahasa-bahasa “alay”, bahasa-bahasa “gaul”, dsb. Mereka pikir dengan menggunakan cara tersebut mereka akan lebih terterima dalam komunitas mereka, dalam masyarakat yang sedang menyanjung perubahan besar-besaran.
Tentu saja jika hal ini tidak dibarengi dengan pengawasan yang berjenjang, maka bukan tidak mungkin bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dijadikan bahasa nasional dan bahasa resmi di negara ini, akan tergerus oleh zaman.
Bukan hanya itu yang menjadi fenomena bahasa yang terjadi di masyarakat pada saat sekarang ini. Saat ini, para politikus sering atau cenderung berbahasa, berekspresi dan bertutur secara samar. Hal ini dimaksudkan untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya yang mereka ingin capai. Fenomena ini menurut pakar ataupun pemikir bahasa terkemuka, Noam Chomsky disebut “Double speak” atau tutur ganda. Saat ini, sering sekali kita mendengar bahasa tutur yang merupakan tutur ganda, ataupun kata-kata yang diperhalus untuk mengurangi kritikan publik. Tengok saja kata “diamankan” sebagai pengganti kata “ditangkap”, “kekurangan pangan” sebagai ganti “kelaparan”. Hal ini tentu saja untuk mengurangi dampak yang akan ditimbulkan oleh penggunaan kata ini, yang mungkin saja bagi mereka terdengar “kasar”.
Terdapat juga gejala “panasea”, dimana para politikus di Indonesia menggunakannya sekedar sebagai obat bagi jiwa-jiwa yang terluka. Hal ini begitu menarik untuk kita cermati karena baru-baru ini kita sering kali melihatnya, apalagi kalau bukan euforia sepak bola nasional kita. Sering muncul dalam koran lokal maupun nasional, dikabarkan bahwa meskipun kalah, indonesia tetaplah menang karena tidak terkalahkan di partai kandang. Hal ini dimaksudkan sekedar untuk mengobati hati yang terluka, bak “panase”, atau obat penawar luka yang mujarab.
Hal inilah yang terjadi dalam bahasa publik saat ini. Orang-orang mulai ramai, dari orang yang tingkat ekonominya rendah sampai presiden menggunakan kata kata double speak maupun panasea ini. Hal ini menurut saya diluar dari garis kebenaran. Atau bahkan menyembuunyikan makna yang sebenarnya. Mereka menggunakan bahasa sebagai alat yang eufimisme, dapat dibentuk sesuka hati mereka. Mereka dapat menggunakan bahasa sebagai kontrol politik, sehingga dapat dengan mudah lawan politiknya masuk bui, hanya dengan persoalan bahasa.
Tapi sebelum itu, kita harus pahami bahwa kedua istilah ini sangat berbeda maknanya. Jikalau Double speak ini bisa dikatakan menyembunyikan kenyataan dari kenyataan yang sebenarnya, maka panasea memperindah kenyataan yang tidak mengenakkan sehingga menjadi “enak’ didengar. Hal ini tentu saja berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi di masyarakat saat ini.
***
Sebagai publik speaker, tentunya kita harus jeli untuk memperhatikan fenomena-fenomena bahasa seperti ini. Apalagi jika harus berhadapan dengan orang banyak (publik). Banyak hal yang perlu kita persiapkan, terutama sikap mental dalam menghadapi permasalahan publik. Jika kita sudah mengetahui masalah apa yang kita hadapi, maka dengan begitu kita selangkah lebih dekat dengan solusinya. Juga, sebelum tampil didepan orang banyak untuk berdialog misalnya, kita tentunya harus mengetahui sebelumnya, dengan masyarakat apa kita berhadapan. Sehingga dengan  begitu, dalam berkomunikasi dengan mereka kita bisa menggunakan kata-kata yang tepat dalam berbahasa, berekspresi dan bertutur  kata.
Hal ini cukup penting, dikarenakan profesi publik speaker atau pembicara publik selain dituntut untuk mengetahui banyak hal yang terjadi di dalam masyarakat, juga sebagai fasilitator jika terjadi kesalahpahaman dalam masyarakat tersebut, dan jika gagal, bukan hanya cemoohan yang akan dia dapatkan bagi dirinya dan juga institusi yang diwakilinya, tetapi juga turunnya integritas seorang publik speaker dalam masyarakat pada umumnya.
Mengapa hal ini perlu kita bahas dalam hubungannya dengan fenomena berbahasa dan bertutur, sebab profesi publik speaker begitu dekat dengan masyarakat. Ibarat kata, seorang publik speaker merupakan mata rantai penghubung antara satu komunitas dengan komunitas yang lain, sehingga dengan begitu kita akan saling mengenal budaya, serta bahasa dan kebiasaan lainnya.
Pengetahuan tentang budaya tutur ini begitu penting untuk kita ketahui. Hal ini dapat menunjukkan betapa agungnya budaya tutur di Indonesia pada umumnya. Sehingga, meskipun terpaut berbagai generasi dengan generasi pencetus bahasa indonesia sebagai bahasa nasional, kita masih bisa merasakan manfaatnya hingga saat ini. Sementara bahasa tutur itu sendiri, mengingat betapa banyaknya ragam tutur di Indonesia, sekiranya bisa digunakan sebagai bahan perbandingan untuk bisa dilakukan penelitian lebih lanjut.

Selasa, November 15, 2011

Batu Festival di Unhas: Sebuah solusi (?)


Sebuah bentrokan yang terjadi dalam sebuah masyarakat bukanlah terjadi tanpa alasan. Termasuk bentokan antar mahasiswa yang baru-baru saja terjadi di Universitas Hasanuddin. Entah itu karena alasan ketersinggngan antar mahasiswa baru dari dua kubu yang sedang bertikai atau peristiwa masa lalu yang sudah mengakar tumbuh kembali menyulut pertikaian. Dan hanya diperlukan sedikit percikan api masalah untuk memicunya kembali karena pada dasarnya mereka sudah saling membenci.
 Adalah sebuah rahasia umum bahwa setiap tahun selalu terjadi bentrokan antar mahasiswa di kampus tersebut. Entah itu fakultas Teknik melawan salah satu fakultas lainnya di Unhas, ataupun Teknik melawan “koalisi” fakultas yang diserangnya.
Selalu tidak bisa disimpulkan bahwa siapa yang memulai bentrokan tersebut, tahu-tahu bentrokan sudah terjadi didepan mata. Sebagai salah satu bagian dari kelompok mahasiswa yang bertikai, mahasiswa yang merasa terpanggil  kemudian bersatu untuk melakukan penyerangan. Sehingga bentrokan yang terjadi bagaikan sebuah festival yang menjadi tontonan banyak mahasiswa lainnya yang tidak melibatkan diri secara langsung, namun mengutuk dalam hati.
Lebih lanjut, saya akan menyebutnya sebagai “Festival Tahunan Unhas” supaya lebih terdengar positif. Namun, berbeda dengan festival serupa yang dilakukan diberbagai belahan dunia festival tahunan unhas ini menggunakan batu sebagai medianya. Ketika orang-orang dibelahan dunia lain menggunakan festival semacam ini untuk bersenang-senang, misalnya festival melempar tomat yang diadakan di spanyol atau festival Holi di India, kegiatan seperti ini dilakukan untuk bersenang-senang. Berbeda sekali dengan festival yang baru-baru ini terjadi di unhas, dimana melempar batu tujuannya untuk melukai sesame insan akademika.
lautan tomat

terjatuh dengan senyum

bersenang-senang

perlengkapan untuk Batu Festival unhas

terjatuh dan pastinya terluka

bahkan satpam-pun turun tangan

lihat senyumnya, beda dengan festival batu unhas!

tersenyum!!

bahkan anak-anak pun ikut, tapi jangan di festival batu unhas!

 Sehingga jika memungkinkan untuk memberikan sebuah solusi mesipun solusi ini kelihatan konyol, namun semoga dapat memberikan sebuah inspirasi untuk unhas yang lebih damai. Jika sebuah festival membutuhkan tempat yang luas, maka lapangan sepak bola unhas dapat digunakan sebagai medianya. Adapun yang dilemparkan jangan lagi batu, karena jujur saja pasokan batu untuk tawuran setiap tahun semakin berkurang. Jadi sebagai saran, gunakan saja air berwarna yang dibungkus dengan plastik sehingga tidak akan melukai orang yang dikenainya.
Jika pihak rektorat berkenan, festival ini dapat dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan Dies Natalis Unhas yang diperingati setiap tahunnya. Peserta festival dapat diambil dari mahasiswa baru tiap fakultas, selain untuk mengakrabkan mahasiswa baru dari tiap fakultas yang berbeda, juga untuk mengurangi citra unhas yang terlanjur buruk atas kejadian ini tiap tahunnya.

Kamis, Oktober 27, 2011

MAJU BOTAK, SI GONDRONG DI BELAKANG DULU!!! PERANG SARAF DIBELAKANG KONFLIK LATEN MAHASISWA


Kampus merupakan sebuah prototipe sebuah lingkungan masyarakat yang lebih besar. Sebuah masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang. Masyarakat kampus yang kemudian disatukan dalam satu universitas kemudian dibagi lagi kedalam berbagai fakultas yang ada, dan didalam fakultas tersebut dibagi lagi kedalam berbagai jurusan berdasarkan pilihan masing-masing mahasiswa sebagai warga masyarakat kampus.
Sangatlah bisa dipahami dalam keanekaragaman mahasiswa dari latar belakang tersebut terjadi konflik-konflik yang berkembang. Latar belakang yang dimaksudkan adalah kondisi eksternal yang bisa memicu terjadinya konflik dalam masyarakat, yaitu SARA. Namun, jika dalam konteks masyarakat kampus penyebab konflik ini bisa saja masalah SARAF. Mengingat permasalahan yang terjadi setiap terjadinya konflik (baca: tawuran) disetiap kampus atau universitas akan berbeda penyebabnya. SARAF merupakan singkatan dari suku, agama, ras dan antar fakultas.
Pasukan garis depan, MABA!

Si gondrong di depan

Terdapat pola-pola tersendiri yang menjadi ciri setiap konflik yang terjadi dalam sebuah institusi pendidikan tinggi. Walaupun pola ini tidak terjadi secara beraturan. Dalam konflik yang terjadi karena masalah suku misalnya, hal yang melatarbelakangi pada awalnya hanya konflik antar individu, yang kemudian meluas menjadi konflik antar suku atau antar daerah. Hal ini sangat serng terjadi mengingat bahwa disekitar wilayah kampus tersebar sekretariat-sekretariat yang mewadahi setiap mahasiswa dari daerah masing-masing atau dikenal dengan nama ORGANDA. Sehingga konflik ini biasanya terjadi diluar lingkungan kampus.

Rabu, Oktober 26, 2011

PAK OGAH YANG TAK TAHU OGAH-OGAHAN

            "Yak, woi.. tahan dulu mobil yang dari situ", seru salah seorang pemuda dengan perawakan yang kurus, muka agak sangar, celana penuh tempelan, rambut diikat kebelakang.
            "Sudah aman", jawab temannya, juga dengan tampang yang tak jauh beda.
            "Ya, terusmi bu, terus....terus... Yak", aba-aba pemuda yang pertama memberikan instruksi kepada seorang ibu paruh baya yang bersandar di belakang kemudi toyota Avanza. Kaca mobil depan diturunkan, si ibu paruh baya tersebut mengeluarkan selembar uang dengan gambar seorang pahlawan dari maluku.
            "Terima kasih, bu. Salama'ki", lanjut pemuda itu dengan sopan.

  Pemandangan seperti kejadian di atas bukanlah hal yang asing kita jumpai di ruas jalan kota yang berjuluk Kota Daeng ini. Utamanya sepanjang jalan Urip Sumoharji-Perintis Kemerdekaan. Selain karena memang daerah tersebut terkenal sebagai sarang kemacetan, juga karena adanya berbagai titik bukaan jalan yang diperuntukkan bagi pengguna jalan yang ingin memutar arah. Dengan gaya bak polisi lalulitas, sekelompok pemuda tanpa pekerjaan tetap ini menjaga serta mengatur tertibnya lalu lintas kendaraan serta kendaraan yang hendak memutar arah sebaliknya.
  Kelompok kecil ini biasanya berjumlah antara 3-6 orang personil yang menjaga setiap titik bukaan jalan. 1-2 orang bertugas untuk memberikan isyarat kepada pengguna jalan dari arah yang berlawanan agar dapat memelankan kendaraannya sehingga kendaraan lain bisa memutar arah, 1 orang lagi bertugas memberi arahan atau instruksi kepada pengemudi kendaraan yang hendak berbelok, sisanya bertugas mengumpulkan "hadiah" yang diberikan sebagai balas jasa mereka.
Pak Ogah bisa kaya raya nih...

Bah, sikat pak...

300xputaran, wah pusing ngitungnya....

ini dia nih contoh yang tidak baik bagi anak
  Dalam perkembangan selanjutnya, sekelompok orang yang berprofesi seperti ini dijuluki sebagai "Pak Ogah". Belum diketahui pasti asal-usul mengapa mereka diberi julukan seperti sebuah tokoh boneka dari serial "Si Unyil" ini. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, mengapa akhirnya muncul sekelompok orang yang sepertinya hendak menggantikan tugas polisi untuk mengatur lalu lintas.

Minggu, Oktober 23, 2011

MAS KAWIN : ANTARA CINTA, PRESTISE & MISKONSEPSI

          Perjalanan sebuah kisah cinta memang sangat menarik untuk diceritakan. Sebuah perjalanan yang begitu menantang bagi pasangan mda-mudi agar dapat bersatu didepan altar suci, mengucapkan ikrar untuk tetap setia sehidup semati. Dengan mengesampingkan semua perbedaan yang ada sehingga dihadapan mereka hanyalah keindahan, laksana taman bunga yang menentramkan jiwa.
Alangkah indahnya bagi kita, jika menjadi insan yang sedang dimabuk cinta. Rasanya, bagai dunia ini milik berdua dan yang lainnya hanyalah figuran semata. Namun, hal tersebut hanyalah ungkapan puitis saja. Karena dikehidupan nyata selalu saja ada faktor penghalang bagi bersatunya dua insan yang saling mencinta. Faktor penghalang tersebut ada yang sifatnya fisik seperti harta, jabatan, kaluarga, dsb. Juga ada yang sifatnya non-fisik seperti pranata-pranata yang berlaku dimasyarakat tertentu, status sosial, dan adat istiadat.
Satu hal yang saya sangat tertarik disini adalah melihatnya dari faktor non-fisik terutama dari adat istiadat. Saya melihat peran adat istiadat dalam menyatukan atau bahkan memisahkan dua insan ang saling mencinta ini. Nah, salah satu hal yang terkandung dalam hampir setiap adat istiadat etnik-etnik di Indonesia adalah Mas Kawin. Berbicara mengenai adat istiadat, tak lepas kita membicarakan sikap yang secara fundamental ditonjolkan, yakni masalah etis. Etis adalah sebuah sikap yang mengatur pantas tidaknya sebuah tindakan dilakukan. Oleh karenanya, saya berusaha mengungkapkan begaimana Mas Kawin sebagai bagian dari adat istiadat serta dianggap sebagai sikap yang etis dapat berpengaruh pada hubungan antar dua insan yang saling mencintai.

MAS KAWIN : SELAYANG PANDANG
Sebelum saya paparkan lebih jauh mengenai pengaruh adat istiadat terhadap hubungan dua insan yang saling mencintai, alangkah baiknya jika saya terlebih dahulu menguraikan konsep Mas Kawin menurut pendapat beberapa ahli dan paparan mistis yang terdapat pada berbagai kebudayaan etnik masyarakat yang ada di Indonesia.
Dalam pandangan G.A. Wilken (1847-1891) dikatakan bahwa Bruidschat atau mas kawin adalah sejumlah harta yang diberikan oleh pihak lelaki kepada kerabat si Gadis pujaannya dengan tujuan untuk memuaskan hati mereka dan meredamkan rasa dendam karena salah seorang gadis diantara mereka dilarikan atau di Bruidschaking (melarikan anak gadis). Karena kalau tidak seperti itu, maka setiap lelaki yang hendak menjadikan seorang Gadis sebagai istrinya, harus mendatangi dan berdiam dirumah sang Gadis. Tentu saja hal ini tidak disenangi dan dirasa menjengkelkan sehingga dirasa perlu untuk melarikannya kerumah lelaki.

Sabtu, Oktober 22, 2011

IKAN SEBAGAI IKON BARU KORUPTOR: ANALISIS SIMBOL DALAM BEDAH FILM “ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI”

Seekor tikus sedang berlari menghindari penglihatan manusia. Tikus itu berlari kedalam sebuah terowongan air kecil yang sudah sangat dikenalnya. Si tikus terus berada disana, bersembunyi. Tikus memang dikenal sebagai binatang yang pintar bersembunyi, bahkan di tempat yang ramai sekalipun. Tikus ini sangat lihai dalam menyembunyikan dirinya. Ilustrasi tentang tikus diatas hanyalah sebagian kecil dari berbagai ilustrasi yang dapat kita tampilkan dari realita hidup saat ini. Sebuah ilustrasi yang secara tidak langsung menyampaikan sebuah informasi, ide, karakter atau bahkan sifat seseorang berdasarkan simbolisasi yang diberikan.
Dalam sebuah bedah film yang diselanggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (IMSI) pada Senin (17/10/11), dengan judul film ‘Alangkah lucunya Negeri ini’ karya Dedi Mizwar, saya melihat ada begitu banyak simbolisasi yang menarik perhatian saya. Salah satunya adalah karakter pemeran calon anggota dewan dari sebuah partai politik dengan nama Partai Asam Lambung, nomor urut 212. Dimana ditampilkan secara berulang, setiap karakter ini muncul dalam adegan bertamu ke rumah gadis idamannya, setiap kali pula dia memamerkan Laptopnya dengan screen saver gambar ikan yang berenang. Hal lainnya yang saya tertarik adalah dalam adegan berikutnya, dia tidak lagi memamerkan screen saver­-nya, melainkan sebuah permainan komputer, Pacman.

Dengan keyakinan bahwa, setiap potongan adegan yang diambil tidaklah diambil begitu saja. Melainkan ada pesan, ada makna yang ingin disampaikan oleh sang sutradara. Bertolak dari penjelasan diatas, setidaknya kita mempunyai tiga simbolisasi yang dapat kita identifikasi, yakni; partai politik dengan nama Parta Asam Lambung dan nomor urut 212, Laptop dengan screen saver ikan yang berenang, serta ada apa dengan permainan Pacman dan mengapa bukan permainan komputer yang lain.

Minggu, Juni 12, 2011

Analisis Iklan Star Mild “Seeing is Believing”

A.  Pendahuluan
Kata iklan didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berita pesanan untuk mendorong, membujuk kepada khalayak ramai tentang benda dan jasa yang ditawarkan; iklan dapat pula berarti pemberitahuan kepada khalayak ramai mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang didalam media massa seperti surat kabar dan majalah (KBBI:322)

Sebuah iklan merupakan alat komunikasi untuk mempromosikan sebuah produk ke khalayak masyarakat dengan tujuan mengikat calon pembeli untuk jangka panjang. Hal ini sering kita jumpai di setiap persimpangan jalan, baik itu berupa baligho, spanduk, umbul-umbul, dan sebagainya yang biasanya berupa teks dan juga gambar.
Salah satu produk yang menggunakan cara diatas adalah iklan dari produk rokok Star Mild dengan slogan iklan terbarunya “Seeing is believing”. Tentu saja banyak orang akan bertanya-tanya tentang arti kata-kata dari iklan tersebut. Setiap orang akan memiliki jawaban yang berbeda dan tidak jarang mengakui bahwa jawabannya-lah yang paling benar.
Dalam hal, penulis mencoba menggunakan asumsi tersebut diatas dalam rangka menganalisis makna kata-kata dalam iklan Star Mild tersebut. Penulis merupakan salah satu mahasiswa perguruan tinggi negeri yang ada di Makassar dan mengambil Sastra Inggris sebagai Program Study. Dalam hal penulis menganalisis iklan ini, penulis menggunakan analisi semiotik serta hubungan-hubungan dengan realita.
Sengaja penulis memilih iklan rokok Star Mild karena iklan tersebut lebih banyak menggunakan kata-kata dalam bahasa inggris, berbeda dengan iklan rokok sejenis pada umumnya yang juga beredar di Indonesia.
Iklan Star Mild       

Selasa, Mei 24, 2011

Nama & Kekhawatiran hilangnya Budaya Lokal

Sebuah nama merupakan hal yang begitu penting dalam kehidupan. Nama merupakan hal yang membedakan seseorang dengan seseorang yang lainnya. Apalah jadinya jika didunia ini ada orang yang tidak mempunyai nama, maka orang tersebut tidak dapat dikenali, tidak dapat diidentifikasi. Sesuai dengan ungkapan emas sang penulis naskah drama , William Shakespeare, “apalah arti sebuah nama”.
Fungsi utama dari sebuah nama adalah fungsi identifikasi. Nama memiliki fungsi referensial, yang membantu kita mengenali seseorang yang memiliki nama tersebut. Fungsi referensial merupakan suatu fungsi bahasa dimanaApakah dia itu adalah teman, pengamen, tukang bakso, pengacara, suster, atau orang yang baru dan belum kita  kenal. Bahkan lebih jauh, kita dapat mengidentifikasi asal orang tersebut hanya dengan berdasarkan nama mereka.
Cukup jelaslah bagi kita dapat dengan mudah mengidentifikasi nama-nama seperti Sumarno, Tarmiyem, Sartono adalah nama-nama asal Jawa; nama-nama seperti Situmorang, Pakpahan, Simanjuntak adalah nama-nama dengan karakter Batak, Sumatra; dan juga nama-nama seperti Baco’, Becce’, Sitti, Marpu’e adalah nama-nama dengan karakter Bugis-Makassar.
Bukan hal itu saja, pemberian nama-nama tersebut bukanlah langsung diberikan begitu saja. Melainkan dengan serangkaian upacara yang setiap daerah mempunyai adat dan kebudayaan mereka masing-masing dalam pemberian nama. Sehingga pemberian nama ini tidak lepas dari khasanah kebudayaan lokal.
Namun, jika kita melihat konteks kekinian terutama pada budaya Bugis-Makassar, hal ini telah tereduksi secara struktural dimana sebuah nama semakin hilang fungsi referensialnya. Nama-nama dengan karakter lokal semakin tergerus oleh indahnya peradaban asing yang menggerogoti lewat media informasi. Faktor media jugalah seperti televisi yang menyebarkan infotainment yang mengispirasi ibu-ibu muda memberikan nama pada anaknya sesuai dengan karakter yang ada pada sinetron.
Hal ini mengisyaratkan bahwa “nama” bukan lagi sebagai hal yang penting dalam sudut pandang budaya. Dimana semakin lunturnya nama-nama yang menunjukkan identitas sebagai suatu bangsa. Nama-nama seperti Baco’ dan Bacce’ dianggap kuno dalam zaman sekarang ini. Tentu saja ada pertimbangan lain nama-nama diatas kurang disukai oleh masyarakat Bugis-Makassar, terutama dari sudut pandang apakah nama itu tidak menimbulkan rasa malu dikemudian hari bagi pemiliknya (Prestisius atau tidak).
Ternyata bukan hanya hal tersebut yang terjadi sehubungan dengan fungsi nama yaitu fungsi referential. Kadangkala dalam sebuah komunitas, "nama" indah yang diberikan tereduksi oleh ciri-ciri fisik yang dimiliki empunya nama. Contoh dalam aktivitas mahasiswa di kampus, kita memanggil "kribo" kepada orang-orang yang memiliki rambut keriting yang merupakan ciri fisiknya. Tentu saja hal ini juga termasuk fungsi referential, namun belum bisa dikategorikan secara substansial dari yang kita bahas sebelumnya.
Tentunya anda pernah mendengar nama "I Mallombasang daeng Mattawang" atau "Karaeng Pattingalloang", nama-nama lokal yang mempunyai pengaruh besar dalam mengangkat khasanah lokal. Terlepas dari fungsi referential sebuah nama yang langsung mengarahkan kita bahwa orang yang dimaksud pasti berdarah Makassar. Sangat jauh berbeda dengan kondisi sekarang dengan menjamurnya teknologi informasi yang telah membri andil dalam pemberian "nama non-referntial" bagi anak-anak yang lahir di zaman baru.
Alangkah besar tanggung jawab kita sekarang, ditengah gencaran infotainment dan acara TV lainnya, mampukah kita mempertahankan khasanah budaya lokal yang semakin tereduksi? Alangkah indahnya jika kita ikut andil dalam pelestarian budaya lokal, dimulai dari sebuah nama. Bagaimana Baco?